Book Description

Lokasi untuk usaha pertanian pada umumnya dipilih di daerah dengan tanah yang subur dan ketersediaan air yang memadai. Daerah kering dengan tanah yang tidak subur tentu bukan pilihan utama, sehingga jenis komoditas pertanian di wilayah tersebut sangat terbatas dan biasanya memiliki nilai ekonomi rendah permusim. Di Indonesia, terdapat 122,1 juta hektar lahan kering, yang terdiri dari 108,8 juta hektar lahan kering masam dan 13,3 juta hektar lahan kering beriklim kering (LKIK). Pada wilayah LKIK inilah diharapkan Rain Driphonic System (RDS) dapat menjadi solusi masalah pertanian, khususnya terkait kekurangan suplai air dan tanah tidak subur, serta membuka peluang untuk menanam komoditas pertanian yang bernilai ekonomi tinggi.

Rain Driponik System (RDS) adalah sistem yang menggabungkan teknologi Rain Harvesting, Drip Irrigation, Hidroponik, dan Solar Energy System. Tujuannya adalah menciptakan pertanian presisi dengan nilai ekonomi tinggi di daerah kering dan tidak subur. Oleh karena itu, jenis komoditas pertanian yang dipilih dalam sistem ini adalah yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain itu, outcome yang diharapkan adalah peningkatan pendapatan masyarakat dan pengentasan kemiskinan.

Rain Driponik System (RDS) bekerja dengan memanfaatkan air hujan yang dipanen secara in situ, kemudian disalurkan ke tanaman melalui jaringan irigasi tetes. Pemberian air dan nutrisi dilakukan secara terkontrol, sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga efisiensi pertanian dapat tercapai. Rain Driphonic System (RDS) sangat cocok diterapkan pada lahan marjinal di daerah kantong kemiskinan, karena dapat memberikan daya ungkit ekonomi yang signifikan, terutama menningkatkan pendapatan rumah tangga petani yang kurang mampu. Oleh karena itu, lahan kering yang kurang subur menjadi target utama penerapan RDS ini.